Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dimensi Komunikasi : Komunikasi adalah Proses Simbolik

Dimensi Komunikasi Komunikasi adalah Proses Simbolik

Sebagaimana fungsi dan definisi komunikasi, dimensi-dimensi komunikasi juga diuraikan dengan berbagai cara oleh para pakar komunikasi. Termasuk penggunaan berbagai istilah untuk menyebut dimensi-dimensi komunikasi ini. 

William B. Gudykunst dan Young Yun Kim misalnya menyebutnya dengan asumsi-asumsi komunikasi. Sementara Cassandra L. Book, Bert E. Bradley, Larry A. Samovar dan Richard E. Porter, Sarah Trenholm dan Arthur Jensen menyebutnya dengan istilah karakteristik-karakteristik komunikasi. 

Meski secara penyebutan berbedabeda, namun inti dari semuanya itu adalah sama yakni sebagai penjabaran lebih jauh dari definisi atau hakikat komunikasi. Dalam bab ini akan dijelaskan bagaimana dimensi-dimensi komunikasi tersebut digambarkan dan berikut contohnya agar lebih mudah dipahami. 

Jika komunikasi dipandang sebagai proses, komunikasi yang dimaksud adalah suatu kegiatan yang berlangsung secara dinamis. Sesuatu yang didefinisikan sebagai proses, berarti unsurunsur yang ada di dalamnya bergerak aktif, dinamis, dan tidak statis. 

Demikian pengertian komunikasi sebagai proses menurut Berlo dalam bukunya The Process of Communication (1960). Dalam berkomunikasi manusia bisa melakukan dalam bentuk verbal dan nonverbal. 

Ernst Cassier mengatakan bahwa keunggulan manusia atas makhluk lainnya adalah keistimewaan mereka sebagai animal symbolicum. Pendapat ini diperkuat dengan pemikiran Suzanne K. Langer yang mengatakan salah satu kebutuhan pokok manusia adalah kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang. 

Lambang atau simbol adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang meliputi kata-kata (pesan verbal), perilaku non-verbal, dan objek yang maknanya disepakati bersama. 

Sebagai contoh memasang pita hitam di lengan pada pemain sepak bola untuk menyatakan bela sungkawa atau empati terhadap kejadian yang menyedihkan yang terjadi saat itu. Di dunia olah raga hal ini disepakati sebagai lambang keprihatinan. 

Kemampuan manusia menggunakan lambang verbal memungkinkan perkembangan bahasa dan menangani hubungan antara manusia dan objek (baik nyata maupun abstrak) tanpa kehadiran manusia dan objek tersebut. Lambang adalah salah satu kategori tanda.

Hubungan antara tanda dan objek dapat juga direpresentasikan oleh ikon dan indeks, namun ikon dan indeks tidak memerlukan kesepakatan. Ikon adalah suatu benda fisik (dua atau tiga dimensi) yang menyerupai apa yang direpresentasikan. 

Misal, foto di KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) anda adalah ikon anda. Rambu-rambu lalu lintas yang menunjukkan arah atau suatu tempat juga termasuk ikon. Rambu bergambar sendok dan garpu adalah ikon dari rumah makan. 

Berbeda dengan lambang dan ikon, indeks adalah tanda yang secara alamiah merepresentasikan objek lainnya. Istilah lain yang sering digunakan untuk indeks adalah sinyal (signal), yang dalam bahasa sehari-hari disebut juga gejala (symptom). 

Indeks muncul berdasarkan hubungan antara sebab dan akibat yang punya kedekatan eksistensi. Contoh, awan gelap adalah indeks hujan yang akan turun, sedangkan asap merupakan indeks api. Namun jika asap itu disepakati sebagai tanda bagi masyarakat untuk berkumpul seperti dilakukan masyarakat primitif, maka asap menjadi lambang karena maknanya telah disepakati bersama. Terdapat beberapa sifat lambang yakni sebagai berikut:

Lambang bersifat bebas: Semua Bisa Jadi Lambang 

Apa saja bisa dijadikan lambang, asal ada kesepakatan bersama. Katakata (lisan atau tulisan), isyarat anggota tubuh, gedung, angka, bunyi dan sebagainya bisa menjadi lambang. Lambang hadir di mana-mana dan terus menerus menerpa kita. 

Namun alam tidak memberikan penjelasan kepada kita mengapa manusia menggunakan lambang-lambang tertentu untuk merujuk pada hal-hal tertentu, baik yang konkret maupuin yang abstrak. Manusia tidak memiliki alasan kenapa hewan yang berkokok itu disebut ayam, bukan sapi atau anjing. 

Hal ini karena semua itu berdasarkan apa yang disebut dengan kesepakatan. Apa yang kita sebut gajah selama ini bisa saja kita sebut jerapah jika diantara kita ada kesepakatan untuk mengubah penyebutan tersebut. Apapun bisa menjadi lambang. Makanan juga memiliki sifat simbolik. 

Orang makan di gerai cepat saji McDonald merasa lebih prestise dibandingkan dengan makan di warung biasa, meski sebenarnya mereka belum tentu menyukai makanan cepat saji itu. 

Padahal di Amerika sendiri yang notabene asal dari makanan cepat saji itu, makanan seperti itu dianggap sebagai makanan sampah (junk food) karena kebanyakan yang makan di tempat itu adalah mereka para pekerja kasar, buruh pabrik, sopir angkot dan tukang sapu jalanan. 

Selain makanan, gedung juga memiliki arti simbolik. Jika anda tinggal di kawasan Dharmahusada Indah Surabaya, tentu akan berbeda perlakuannya jika dibandingkan dengan anda tinggal di kawasan biasa atau kawasan yang kumuh. 

Tren tinggal di apartemen yang kini marak di kotakota besar seperti Jakarta dan Surabaya dianggap sebagai orang kaya. Padahal sebaliknya, di negara maju seperti Amerika, tinggal di apartemen menandakan bahwa orang tersebut bukan orang yang kaya atau orang yang sederhana. 

Lambang Tidak Punya Makna; Orang-Lah Yang Memberikan Makna 

Lambang sebenarnya tidak memiliki makna. Tapi kita-lah yang memberikan makna itu. Karena itu pada dasarnya tidak ada hubungan yang alami antara lambang dengan referent - obyek yang dirujuknya. 

Seseorang dapat mengaku sebagai kyai dengan memakai simbol atau lambang yang identik dengan kyai - baju gamis putih dan kopyah putih -, meskipun dia sesungguhnya bukan kyai. Banyak orang percaya angka 13 adalah angka sial. 

Karena itu sejumlah gedung yang pemilik atau pengelolanya percaya terhadap angka takhayul itu, tidak memberikan label angka 13 di lift gedungnya sebagai penunjuk urutan lantai. Meski jika dihitung secara berurutan dari lantai dasar, tetap saja lantai tersebut berada di urutan ke-13. 

Sebagai contoh salah satu gedung tinggi di Surabaya yang menjadi ikon perusahaan media ternama, tidak mencantumkan angka 13 pada lift gedungnya. Ketakukan akan angka 13 ini seolah-olah kini menjadi sejenis penyakit yang disebut triskadaiphobia. 

Di Barat, mitos angka 13 ini juga muncul meski selama ini mereka mengklaim sebagai masyarakat yang rasional. Orang Barat percaya bahwa hari Jum’at tanggal 13 adalah hari bencana – munculnya kejahatan, terutama pembunuhan –, seperti malam Jum’at kliwon dalam tradisi Jawa yang dipercaya sebagai malam munculnya roh-roh yang gentayangan. 

Contoh lain, sebagian orang percaya nomor handphone cantik dengan susunan empat nomor di belakang terdiri dari angka 5758 – majumapan – membawa keberuntungan bagi si pemakainya. Karena kepercayaan itu mereka berani membeli nomor handphone cantik itu dengan harga hingga puluhan juta rupiah. 

Lambang itu Bervariasi 

Sifat terakhir lambang adalah bervariasi. Artinya dari suatu budaya ke budaya lain, dari satu tempat ke tempat lain, dan dari suatu konteks waktu ke konteks waktu lain bisa tidak sama. Orang Indonesia menyebut benda berkaki empat yang biasa diduduki sebagai kursi, tidak sama dengan orang Inggris yang menyebut dengan sebutan chair. 

Penyebutan yang berbeda itu prinsipnya boleh berbeda asalkan ada kesepakatan bahwa yang disebut itu memiliki kesamaan lambang. Pemberian BH oleh mahasiswa kepada pejabat sebagai bentuk kekecewaan terhadap kinerjanya, bisa diartikan sebagai sindiran bahwa pejabat itu banci atau tidak tegas dalam menjalankan kewenangannya. 

Namun bagi masyarakat Papua pedalaman, pemberian BH itu bisa diartikan bantuan bantuan yang diharapkan karena memang mereka membutuhkannya. 

Contoh lain, warna kulit coklat bagi masyarakat barat dulu dianggap sebagai kulit yang identik dengan pekerja kasar atau buruh, tapi kini kulit coklat bagi mereka memiliki nilai kecantikan yang lebih dibandingkan anggapan dulu. 

Karena itu, kini tak jarang para wanita barat berlomba-lomba berjemur di pantai di bawah terik matahari agar kulit mereka berubah warnanya menjadi coklat. Sebaliknya, bagi wanita di negara tropis seperti Indonesia, kulit coklat yang identik dengan kondisi tropis justru dianggap tidak cantik. 

Mereka akan merasa cantik jika kulit mereka menjadi putih seperti yang dikonstruksikan dalam iklan-iklan pemutih di media.

Bona Pasogit
Bona Pasogit Content Creator, Video Creator and Writer

Posting Komentar untuk "Dimensi Komunikasi : Komunikasi adalah Proses Simbolik "

close